4 Langkah menghadapi anak balita yang gampang ngambek

Pastikan Ayah Bunda nge-like tombol Facebook Balitapedia di atas untuk mendapatkan tips, resep, games, dan info menarik lainnya seputar tumbuh kembang balita tercinta.

Tips menghadapi anak balita dengan mood swing

Anak balita yang berusia 3-4 tahun sedang mengalami masa perkembangan emosinya. Di tahap ini sering ayah bunda menemukan mereka dalam keadaan senang, namun tiba-tiba menangis atau marah tanpa alasan yang jelas (mood swing). Saat lain mereka lagi asik bermain di arena bermain, namun tiba-tiba merajuk sambil menangis. Ayah bunda jangan heran, di masa-masa usia ini si kecil masih belum bisa mengespresikan dan menata perasaanya secara tepat. Hal inilah yang memicu perubahan emosinya secara mendadak.

Menurut seorang ahli psikologi anak dari Universitas Columbia, New York, AS, Elizabeth B. Hurlock, sebagaimana di kutip majalah ayah bunda, dia mengatakan ada dua hal yang menyebabkan si kecil ‘belum mampu’ mengelola emosinya. Yang pertama karena kecerdasan emosi mereka masih belum matang, dan yang kedua si buah hati sedang belajar mengenali jenis-jenis emosi serta cara mengespresikanya. Jika tidak di pandu secara tepat maka si kecil tidak akan bisa menata dan mengelola suasana hatinya dan bisa terbawa sampai dewasa.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat ayah bunda lakukan dalam rangka memandu dan mengarahkan si kecil agar dapat mengelola emosi dan mengekspresikanya dengan cara yang baik dan benar.

Tips menghadapi anak balita dengan mood swing

1. Jangan membuat mereka bingung

Saat ayah bunda mengharapkan sesuatu dari si kecil, sampaikan dalam bentuk arahan atau perintah yang jelas dan bisa difahami si kecil. Suasana hati si kecil dapat langsung berubah menjadi marah atau kesal ketika dia tidak mampu memahami keinginan ayah bunda. Berikan arahan yang dapat difahami sesuai dengan perkembangan usianya.

Sampaikan juga alasan-alasan kenapa ayah bunda meminta si kecil melakukan sesuaru. Misalnya saat si buah hati sedang belajar mengenakan baju sendiri, pandu mereka secara bertahap dan kalau perlu berikan contoh agar lebih jelas.

2. Berikan kesempatan untuk berekspresi

Terkadang kita sebagai orang tua kurang sabar ketika si kecil melakukan sesuatu secara tidak tepat, padahal menurut ahli psikologi anak, memberikan kesempatan pada si buah hati untuk meyelesaikan pekerjaanya meki dengan cara yang kurang tepat adalah baik bagi pembelajaran mereka. Bantu si kecil dengan memberikan arahan cara yang tepat untuk, jika perlu bantu langsung untuk menyelesaikan apa yang dikerjakan si kecil.

Misalnya saat si kecil memakai sepatu terbalik, samapaikan bahwa itu terbalik dan berikan kesempatan padanya untuk memakai sepatunya sendiri. Memaksakan kehendak ayah bunda pada si kecil hanya dapat memicu rasa kesal dan frustasi si kecil yang mengarah pada ketidak stabilan emosi mereka.

3. Tuntaskan konflik secepatnya

Gali lebih dalam apa yang menyebabkan si kecil tiba-tiba marah atau menangis, apakah karena ayah bunda tidak mengabulkan keinginanya, atau mainanya di ambil teman padahal ia masih ingin menggunakanya. Ajarkan dia untuk mengekspresikan suasana hatinya secara verbal, misalnya dengan bicara blak-blakan saat keinginanya tidak dipenuhi ayah bunda.

4. Bersabar saat menghadapi si kecil

Ayah bunda harus memahami kondisi si kecil yang masih dalam tahap menuju kematangan emosi. Sebagai orang dewasa, kita harus lebih banyak memahami si kecil, bukan sebaliknya. Jangan hadapi ketidak-stabilan emosi mereka dengan kekerasan baik secara verbal berupa bentakan, atau non verbal misalnya mencubit dan memukul mereka.

Tambahkan komentar: