Tips cara mengatasi anak balita yang mulai susah diatur

Pastikan Ayah Bunda nge-like tombol Facebook Balitapedia di atas untuk mendapatkan tips, resep, games, dan info menarik lainnya seputar tumbuh kembang balita tercinta.

Penyebab anak balita susah diatur

Saat si kecil masih bayi, mereka adalah anak yang menggemaskan, menginjak usia 2-3 tahun mereka bermetamorfosis menjadi pribadi yang mengagumkan, cepat belajar, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan sering membuat ayah bunda tertawa karena lucu. Semakin bertambah usianya, si kecil menjadi pribadi unik yang mempunyai harap dan keinginan sendiri, dan terkadang keinginanya bisa tidak sesuai dengan apa yang ayah bunda harapkan.

Dalam sejumlah kasus, ada ayah bunda yang menemukan si buah hati yang tadinya penurut dan periang dalam sekejap mereka berubah menjadi cengeng, agresif, pembangkang, cepat marah, hiperaktif, dan senang berkata ‘tidak’. Karakter lain yang mungkin muncul pada diri si kecil diantaranya adalah penakut, pemalu, atau tidak mau jauh dari ayah bunda. Disinilah kesabaran dan peran ayah bunda sebagai orang tua diuji.

Perlu kita fahami bahwa sifat-sifat seperti tersebut diatas adalah hal yang normal terjadi pada anak-anak. Sebagaimana halnya orang dewasa yang tidak selalu sempurna, kadang si kecil dapat bertingkah laku tidak menyenangkan dan dianggap buruk. Yang terpenting adalah orang tua harus mengajarkan batas-batas tindakan yang tidak boleh dilanggar si kecil.

Penyebab anak susah diatur

Jika ayah bunda merasa si kecil tiba-tiba susah diatur, pemarah, berkarakter negatif lainya pertama sebagai orang tua kita harus instrospeksi diri, adakah karakter dari kita yang membuat si kecil merasa kurang diperhatikan, tertekan, atau frustasi. Mungkin karena aktifitas kerja yang cukup padat sedikit banyak perhatian pada si kecil menjadi teralihkan, atau tanpa disadari karena tekanan pekerjaan ayah bunda sering menghardik dan memarahi si kecil.

Prilaku orang tua yang terlalu membatasi aktifitas si kecil dengan banyak mengatakan ‘tidak boleh’ atau ‘jangan’, dapat membuat si kecil frustasi. Mereka adalah pribadi yang memiliki rasa ingin tau sangat besar, hal baru yang mereka lihat dapan mereka sibuk memahami apa dan bagaimana cara kerjanya. Mereka akan tertekan jika sedikit-sedikit orang tuanya mengatakan ‘tidak boleh’ atau ‘jangan’. Berikan kebebasan pada si buah hati dan tegaskan batasan yang tidak boleh dilanggar.

Membuka-buka pintu lemari es, menghambur-hamburkan baju yang sudah disusun rapih, atau bermain dengan beras adalah bagian dari petualangan mereka, sayangnya presepsi mereka dengan ayah bunda bisa berbeda. Jika buat mereka itu semua adalah petualangan, bisa jadi buat orang tua sangat menjengkelkan karena barang yang sudah dibereskan di hamburkan si kecil. Lebih bersabar dan coba untuk memahami sudut pandang mereka.

Perbedaan aturan antara ayah dan bunda juga dapat membingungkan si kecil, jika bunda bilang ‘jangan makan eskrim saat pilek’ tapi terkadang ayah atau kakek neneknya malah memberikan, jadi si kecil bisa bingung mana yang harus didengarnya. Atau saat ke supermarket ayah selalu memberikan permen tapi bunda selalu melarangnya, mungkin dia akan marah kenapa dilarang makan permen padahal ayah bilang boleh. Menyamakan presepsi anatara ayah dan bunda sangat penting agar si kecil tidak bingung.

Masalah bahasa juga dapat berperan dalam hal ini. Jika bunda terlalu khawatir dan terlalu mengekang aktifitasnya dengan mengatakan: ‘tidak, jangan makan permen itu nanti sakit gigi’, ‘jangan pegang kucing nanti tanganya kotor’, ‘jangan main laptop ayah, nanti rusak’, ‘jangan berdiri di meja, nanti jatuh’ dan banyak kata ‘tidak’ yang lainya, sehingga tidak heran jika kata ‘tidak’ menjadi favorit si kecil juga. Ketika bunda mengarahkan si kecil, dia akan mengatakan ‘tidak’.

Lihat dari sudut pandang berbeda

Anak kecil masih belajar menjalani kehidupanya, pemahaman mereka tentang segala hal belum sematang orang dewasa. Berikan toleransi jika mereka melakukan kesalahan, berikan kebebasan untuk bertindak namun ajarkan secara tegas tanpa harus marah apa-apa yang tidak boleh dilanggar.

Pola pendidikan ayah bunda akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter dimasa dewasa. Apakah si kecil akan tumbuh besar dengan pribadi mandiri, sabar, penuh kasih sayang, jujur, hormat pada orang tua ataukan menjadi pribadi temperamental, mudah putus asa, tidak menghargai, dan licik, semua ditentukan dari pendidikan yang diterima si kecil terutama dari ayah bunda.

Bukan suatu hal yang buruk jika kita mengevaluasi pola didikan pada dengan si kecil. Tidak ada kata terlambat. Jika ayah bunda merasa ada yang kurang tepat dalam hal membimbing si kecil, cepatlah berubah.

Tambahkan komentar: